hati dan pikiran

Standard

pernah menangis?

ya. itu sudah pasti.

pernah kecewa?

ya. itu sudah pasti.

pernah bahagia?

ya. itu sudah pasti.

tapi pernahkah merasakan hal yang ga seharusnya di lakukan namun kamu lakukan??

ya. dan itu sedang terjadi.

suatu hal yang ga harus di lakukan tapi malah di lakukan.

haruskah menyalahkan waktu atau malah menyalahkan pilihan??

aku akan menyalahkan keduanya.

mengapa?

karena kedua hal itu saling berkaitan.

apakah ada penyesalan??

sangat ada. dan itu terlampau dalam.

haruskah berlarut-larut??

tidak. jika kamu mampu melupakannya.

lalu apa yang terjadi jika tidak mampu melupakannya??

haruskah menangisi??

haruskah menghukum seseorang?

atau malah menyakiti diri sendiri??

apakah semua hal itu membantu??

tidak.

itu hanya menyesatkanmu.

mengapa??

karena suatu hal yang telah terjadi sepatutnya kau jadikan pelajaran.

yang tak akan di ulangi ataupun di terapkan.

bodoh kah itu ??

tidak.

mengapa??

karena itu adalah suatu pendewasaan dalam sebuah kematangan berpikir.

walau keadaan yang sebenarnya tak semudah berbicara namun mulailah untuk belajar berpikir

ya, berpikir matang dalam memutuskan.

entah dengan teman, pacar, sahabat, anggota keluarga, ataupun rekan yang lain.

jika kau tak mampu, ingatlah Tuhan yang selalu menyertaimu.

mendoakanmu. mengasihimu. juga membimbingmu.

suka ataupun duka.

haruskah mengambil keputusan dengan hati??

tidak.

mengapa?

karena sebuah keputusan datang dari cara berpikirmu.

lalu apa guna hati ini?

untuk mengasihi. memuja juga mencintai.

mencintai dengan normal tanpa hasrat mengingini.

mencintai dengan berpikir positif.

mencintai dengan benar dan tak menyimpang.

mudah di ucapkan namun sulit di lakukan.

apakah sudah melakukannya??

jawabannya belum.

tak apa, itu adalah sebuah pembelajaran.

pembelajaran menuju yang lebih baik.

pembelajaran menyongsong dewasa.

liku-liku hidup yang tak ada habisnya

bukan untuk di persulit

namun permudahlah dengan berpikir rasional dan positif

jadi, apakah sudah menerapkannya??

aku pernah berpikir “mencintaimu adalah membahagiakanmu.”

apakah itu benar??

kadar bahagia seseorang berbeda dengan kadar bahagia diri kita.

jika kita harus melakukan yang membuatnya bahagia namun hati ini tersiksa..

haruskah??

mencintai adalah ketulusan.

tanpa pamrih juga hasrat..

lisa delfriani herowidjojo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s